Bagai Sawerigading ”Singgah” di Tanah Kelahiran

(Menyaksikan Pementasan Drama I La Galigo, di Benteng Rotterdam Makassar, 23 April 2011, malam)

Akhirnya  I La Galigo ‘’berlabuh’’ di Makassar, tempat kelahirannya. Epos terpanjang di dunia dari Sulawesi Selatan ini dipentaskan di Bentang Rotterdam Makassar, Sabtu malam. Sutradara kondang Amerika Serikat Robert Wilson bersinergi dengan Rhoda Grauer dari Perancis sebagai adaptator teks dan dramaturgi,  serta Rahayu Supanggah  yang menata musik dan artistik ditata Restu Kusumaningrum. Drama musikalisasi dan tari ini sudah dibawa keliling dunia masing-masing di Singapura, New York, Amsterdam, Barcelona, dan di Perancis.

Pementasan darama kolosal ini di tanah asalnya mulai Sabtu (23/04/2011) dan Minggu (24/04/20011) di Teater Arena Bentang Rotterdam atau Banteng Ujungpandang. Sebelumnya, Kamis  malam, drama I La Galigo dipentaskan khusus untuk wartawan . Pementasan buat media ini hanya berlangsung sekitar 1 jam atau hanya satu kisah, sebelum diakhiri.

Meskipun pementasan Sabtu malam khusus untuk para pejabat dan undangan, drama bersumber dari sureq Galigo yang diproduksi Change Performing Arts Italia dan Yayasan Bali Purnanti ini dipenuhi penonton… Baca lebih lanjut

Beragamalah dengan Tidak Membunuh

Di account Facebook, beberapa waktu lalu, saya mengomentari kasus menyerangan komunitas Ahmadiyah di Makassar, dengan sebuah pertanyaan ‘’Apakah tidak ada cara lain, selain kekerasan, dalam menyelesaikan masalah. Agama kok diatasnamakan untuk menjustifikasi kekerasan?’’

Di antara sekian tanggapan, ada facebooker yang memberikan komentar, yang menurut saya, sangat sadis. Tanggapan tersebut, kurang lebih…’’Saya bukan FPI dan kadang saya tidak setuju dengan cara mereka, tetapi dalam Islam harus memerangi orang yang murtad. Bahkan dihalalkan meminum darah dari mereka yang murtad.’’ Ini interpretasi yang sadis, yang bertentangan dengan nilai hakiki agama.

Seminggu setelah pengepungan… Baca lebih lanjut

Tuhan Maha Anti Korupsi

MENGAPA demo memperingati Hari Anti Korupsi mesti ternoda secuil anarkisme? Bukankah Tuhan telah merahmati Indonesia dengan sebuah pertolongan dahsyat? Bukankah campur tangan Tuhan telah menyudahi sebuah kezaliman besar dari bangsa besar dengan jumlah penduduk yang besar, dan katanya melahirkan pemimpin-pemimpin besar. Mestinya gerakan massa 9 Desember 2009 merupakan kenduri selamatan untuk negeri ini, karena berkat rahmat Tuhan, people power mampu menemukan kekuatan menyelamatkan Indonsia.

Seandainya Tuhan tidak mengaruniai pertolongan, sebuah kejahatan besar di negeri ini mengukir sukses. Jika kesuksesan itu dipeoleh, makin mengokohkan proses sebuah peradaban yang membalikkan kezaliman menjadi kelaziman… Baca lebih lanjut

Merdeka dari Korupsi

Dalam perjalanan mengelilingi Sulawesi Selatan pekan-pekan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, jalanan macet di mana-mana. Ada dua penyebab yang dominan. Perjalanan mesti terhenti karena dihalangi latihan baris-berbaris anak-anak sekolah dan para pegawai negeri. Atau badan jalan tertutup sebagian karena antrean kendaraan membeli bahan bakar.

Ini sepele. Tapi rasanya, itulah potret Indonesia di usia ke-63 tahun merdeka. Di satu sisi susah mendapatkan bahan bakar. Di sisi lain, hampir semua orang sibuk latihan baris-berbaris….. Baca lebih lanjut

Tragedi Negeri Elok

Disadari atau tidak disadari, kita adalah generasi yang dibesarkan dengan alunan nina bobo tentang negeri yang elok nan subur. Jamrud katulistiwa yang menyimpan sumber daya alam melimpah-ruah.

Para seniman dan biduan melukiskan negeri ini seperti surga. Lautan dan samudra luas menjadi kolam susu. Tongkat kayu yang dibuang pun bisa tumbuh.

Benar para seniman. Kita memang dirahmati kesuburan bagi setiap jengkal tanah di negeri ini. Kita dirahmati hutan, bahkan 10 persen hutan tropis dunia, semula menjadi milik kita. Bukan hanya itu, di bawah hutan dan tanah yang subur, kita masih dirahmati Maha Pencipta, berbentuk aneka hasil tambang dari fosil purba berupa minyak bumi, emas, biji besi, nikel, batu bara dan lain-lain. Di samudra luas, kita dirahmati jutaan jenis ikan dan keanekaragaman hayati laut tak tertandingi…. Baca lebih lanjut

Adam Air Tanah

Terompet tahun baru berbuah lara, ketika kita mengawali 2007 dengan tragedi. Pesawat AdamAir hilang di Sulawesi dan sampai coretan ini dibuat 13 Januari 2007, perangkat besi terbang itu baru ditemukan serpihan-serpihannya.

Mengawali tahun ini juga kita di didera bencana di perairan. Kapal feri Senopati Nusantara tenggelam di Jawa Tengah. Ratusan nyawa hilang dan kemungkinan besar ‘telah kembali’ ke pangkuan Ilahi.
Kita juga dihantam musibh tanah longsor tak henti-hentinya. Rumah, manusia dan harta benda terkubur dalam sekejap. Lenyapnya AdamAir, misterius. Radar canggih hasil peradaban manusia tak bisa mendeteksi. Signal musibah hanya bisa ditangkap selintas di Singapura… Baca lebih lanjut

Hutan Ada dalam Jiwa

Banyak orang mencari tempat indah yang eksotis dan tujuan mereka adalah hutan. Pepohonan rimbun dan mata air yang menetes dari batu-batu atau pancoran. Mereka mencari bahkan menyepi, di tempat seperti ini dengan hanya satu alasan, menenangkan jiwa, setelah sumpek dari hujaman rutinitas.

Ketika membutuhkan kedamaian, kita kerap mencari suasana. Lalu suasanalah yang menyeret kita untuk selalu akrab dengan alam, meski pada sisi lain, sesungguhnya atas nama kehidupan, manusia selalu cenderung merusak hutan, alam dan lingkungan. Atas nama industri dan kesejahteraan, manusia mengelola alam tanpa perhitungan ekologis… Baca lebih lanjut