Bagai Sawerigading ”Singgah” di Tanah Kelahiran

(Menyaksikan Pementasan Drama I La Galigo, di Benteng Rotterdam Makassar, 23 April 2011, malam)

Akhirnya  I La Galigo ‘’berlabuh’’ di Makassar, tempat kelahirannya. Epos terpanjang di dunia dari Sulawesi Selatan ini dipentaskan di Bentang Rotterdam Makassar, Sabtu malam. Sutradara kondang Amerika Serikat Robert Wilson bersinergi dengan Rhoda Grauer dari Perancis sebagai adaptator teks dan dramaturgi,  serta Rahayu Supanggah  yang menata musik dan artistik ditata Restu Kusumaningrum. Drama musikalisasi dan tari ini sudah dibawa keliling dunia masing-masing di Singapura, New York, Amsterdam, Barcelona, dan di Perancis.

Pementasan darama kolosal ini di tanah asalnya mulai Sabtu (23/04/2011) dan Minggu (24/04/20011) di Teater Arena Bentang Rotterdam atau Banteng Ujungpandang. Sebelumnya, Kamis  malam, drama I La Galigo dipentaskan khusus untuk wartawan . Pementasan buat media ini hanya berlangsung sekitar 1 jam atau hanya satu kisah, sebelum diakhiri.

Meskipun pementasan Sabtu malam khusus untuk para pejabat dan undangan, drama bersumber dari sureq Galigo yang diproduksi Change Performing Arts Italia dan Yayasan Bali Purnanti ini dipenuhi penonton… Sebagian tidak kebagian kursi, sehingga harus mengambil tempat di seputaran arena khusus penonton undangan.

Pementasan ini dikemas sungguh professional. Penonton menyaksikan pentas ini harus menaati aturan, di antaranya tidak membawa makanan dan minuman ke kursi penenton, saat pentas, tidak diperkenangkan mengambil gambar atau memotret, sebelum pementasan dimulai, penyelenggara juga memberi pentunjuk emergency jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Penyelenggara bahkan sudah menyiapkan tenda besar, jika tiba-tiba turun hujan. Lampu baru dipadamkan tanda pementasan dimulai, setelah penyeleggara menanyakan kepada penonton apakah bersedia mematikan  handphone dan tidak mengambil gambar, dan penonton serentak menyatakan setuju. Penonton pun taat dan sampai selesai. Saya yang duduk di kursi baris keempat dari depan panggung, tidak pernah mendengar dering telepon dan kilatan lampu kamera, hingga akhir pementasan.

Penonton masuk dengan tertib. Untuk sampai ke arena di tengah benteng depan panggung, pengunjung atau penonton diarahkan melewati atau menelusuri ruangan-ruangan Museum La Galigo, dihiasi paduan tata cahaya dan  instrument musik tradisional yang membuat suasana megis.

Universalisasi Sureq Galigo

La Galigo bukan hanya menjadi epos terpanjang di dunia, lebih panjang dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Meski tercipta dan tumbuh dalam kosmologi dan filososfi Bugis, La Galigo mengemban makna universal. Kisah ini secara filosofis mengurai hakikat kejadian dan kehidupan manusia. Tak heran, jika ketika dipentaskan keliling dunia, I Lagaligo mampu menggugah kekaguman semua orang yang menyaksikan.

Dari potensi ini juga harus memaksa Reboret Wilson sebagai sutradara dan Rodha yang mengadpasi cerita, harus mengerahkan segenap kemampuan menafsir kisah penuh simbolik ini menjadi bahasa ferbal, dengan harapan akan komunikatif dalam realitas panggung. Saya tidak tahu, apakah upaya mereka maksimal atau tidak, tetapi di atas panggung, pementasan I La Galigo pun tidak bisa dengan gampang dipahami dalam alur yang harfiah. Saya yakin, penonton yang belum atau sama sekali belum mengenal atau membaca sureq Galigo, pasti kurang bahkan tidak akan mampu memahami alur cerita I La Galigo versi Wilson. Tidak heran, sebelum masuk ke setiap adegan pementasan, penyelenggara mengharapkan penonton membaca sinopsis yang dibagikan, meskipun saya dan hampir sebagian besar penonton tidak mendapatkannya.

Meski La Galigo memendam makna universal, tetapi kemudian dalam pementasan ini, Robert Wilson tampaknya terlampau terbebani misi itu, yang kemungkinan ini dilakukan agar proyek keliling dunia ini mampu dengan maksimal memberi seuatu kepada penonton. Tetapi, bagi saya, upaya universalisasi ini justru menjadi beban, dan beban itu terlampau diperhatiani Wilson, sampai sebagian substansi filosifis La Galigo justru tak tereksplorasi maksimal.

Misalnya, dalam cerita La Galigo, simbol harmonisasi dan ekositem bumi Bugis digambarkan lewat hewan kerbau dan ayam. Tetapi, dalam pementasan ini, Wilson pun terbebani memberi bobot universalisasi degan memasukkan binatang yang asing di tanah Bugis, misalnya jerapah. Padahal dalam sureq Galigo, hanya ada tiga binatang yang dominan, ayam, kerbau dan rusa . Ayam, kerbau dan rusa sesungguhnya menjadi hewan kosmologi Bugis. Kekhasan filosofis manusia dan tanah Bugis terjewantahkan dalam tiga jenis binatang itu. Karenanya, masa kanak-kanak Batara Lattuq selalu dihibur oleh ayam-ayam aduan.

Dalam pementasan ini, bobot filosofis ayam, luput dari perhatian Wilson. Padahal, dari sisi itulah sebenarnya tersimpan makna fisafati dan nilai-nlai kebugisan. Wilson mungkin menghindari pemaknaan ayam dan mengadu ayam dalam pengertian harfiah. Mestinya ia juga membiarkan realitas simbolik ini untuk juga direnungi penonton.

Anti Dialog

Menurut saya, salah satu keberhasilan pementasan I La Galigo versi Wilson, adalah kemampuanya merangkai epos ini di atas panggung degan tidak ada satu pun dialog antarpemain (antar-tokoh).  Alur cerita diurai dalam syair-syair  dibahasakan dalam bentuk narasi dan tembang Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar.

Menurut saya, kekuatan dalam pementasan ini juga terletak pada musik pengiring. Mereka bukan saja menembangkan syair-syair, tetapi bunyi-bunyian, serta mampu mendialogkan narasi cerita dengan garapan apik. Dalam pementasan di Bentang, pemusik juga harus bekerja keras men-dubbing beberapa suara yang seharusnya diteriakkan para pemain. Upaya ini juga kemungkinan sebagai antisipasi kondisi panggung terbuka yang serba terbatas.

Ini juga kemudian membuat penonton awam yang belum atau sama sekali membaca atau mendengar cerita Galigo, akan susah memahami alur pementasan. Perlu diketahui, bahwa kisah dalam sureq Galigo disusun dalam bentuk syair-syair meski secara aluriah merupakan rangkaian cerita mulai dari Patotoq menurunkan puteranya Bata Guru ke bumi, kemudian Batara Guru menikah dengan Wi Nyilik Timoq dari dunia bawah (dalam air) yang juga sepupunya. Dari perkawinan ini lahir Batara Lattuq, yang kemudian menjadi ayah Sawerigading.

Dalam sureq Galigo, ketika Patotoq menurunkan Bata Guru digambarkan dalam sebuah peristiwa luar-biasa yang membuat alam semesta bergetar. Ketika kita membaca syair-syair turunya Batara Guru dalam sureq Galigo, rasanya kita ikut bergetar.

Tetapi, dalam pementasan di Bentang, Sabtu malam, unsur itu tidak saya dapatkan dalam sebuah kemasan panggung. Bagi saya, proses turunnya Batara Guru ini penting, karena secara simbloik, saat itulah kehidupan dunia dimulai, yang semula kosong. Mungkin keterbatasan panggung yang kemudian juga tidak memberikan efek maksimal kepada penataan lighting yang bagus, yang kemudian tidak berdampak pada proses turunya Batara Guru, tampaknya tidak terlalu sarat makna.

Dari sisi inilah juga, Wilson tampaknya terlalu mengandalkan musik dan syair, sehingga meniadakan sepatah atau dua patah kata dalam dialog antara Patotoq dan penghuni dunia atas yang menurut saya, itu sangat bermakna. Misalnya, Patotq menurunkan Batara Guru untuk mengisi kekosongan karena tidak lengkaplah kemahakuasaan Patotoq di Botting Langik, kalau tidak ada manusia yang menyembahnya di dunia. Menurut saya, ini juga menjadi sibol dari hakikat demokrasi. Tetapi substansi makna ini tidak menjadi sesuatu yang penting untuk dipahami dalam pementasan I Lagaligo garapan Wilson.

Panggung yang Minus

Panggung yang tidak mendukung juga kemudian berpengaruh pada estetika dan visualisasi pementasan.  Suasana tidak mampu dibangun maksimal  karena tidak bisa menurunkan pemain dari atas lewat sling atau tali gantung.

Hal ini membuat  semua adegan turun, misalnya Patotog menurunkan Bata Guru atau kehadiaran Patotoq sendiri menggunakan roda pendorong yang datang dari arah samping panggung. Sistem dorong gerobak inilah menjadi salah satu kelemahan dalam pementasan di Benteng Roterdam, Sabtu malam.

Saya pun memahami ini, bahwa sebuah pementasan kelas dunia didatangkan di Makassar, harus berupaya maksimal memenuhi keterbatasan. Ini tentu menjadi catatan, kalau Makassar memang menuju kota dunia, ke depan mesti memiliki gedung pementasan yang juga berkelas dunia, agar semuanya tidak sekadar retorika.

Ibarat Sawerigading yang Singgah

Menyaksikan pementasan La Galigo di Bentang Rotterdam Makassar, bagai menyaksikan kebugisan dalam busana universal. Menurut saya, inilah menjadi titik perhatian Wilson, sehingga pemaknaan garapan sureq Galigo lebih ditujukan pada eksistensi Sawerigading . Wilson kemudian mencurahkan titik perhatian lebih banyak pada kisah perjalanan Sawerigading, dari Sulawesi Selatan  sampai ke negeri China.  Wilson memaknai perjalanan Sawerigading sebagai sebuah transformasi kultural dan peradaban yang memansia secara universal.

Titik perhatian ini pula kemungkinan berdampak  pada lemahnya merajut alur dalam drama musikal dan tari ini. Penonton seolah-olah dipaksa untuk memahami jalannya pementasan yang kemudian terkesan agak lamban dan menjenuhkan di separuh waktu terakhir.  Peristiwa-peristiwa dahsyat dan luar biasa dalam sureq Galigo tidak terjelma maksimal dalam pementasan ini, yang tentu juga dipahami karena Wilson dalam menggarap pementasan ini tidak menggunakan naskah ferbal, tetapi menafsirkan cerita ke dalam simbol-simbol musik, bunyian, gerak dan alunan syarir.

Usai menyaksikan pementasan ini, saya pun berjalan tidak lagi melewati ruangan-ruangan Museum La Galigo. Saya mencoba memahami bahwa saya menyaksikan I La Galigo yang ‘’berlabuh’’, bukan La Galigo yang pernah saya baca dalam versi terjemahan naskah-naslah sureq  yang pernah dikumpulkan Arung Pancana Toa, yang kini tersimpan di Perpustakaan Leiden Belanda.

Saya memahami bahwa La Galigo garapan Wilson laksana seorang pemuda Bugis yang telah dipoles dan didandani dalam sebuah busana universal. Sang pemuda itu mengembara bagai Sawerigading dengan mengemban misi sebagai duta kultural, yakni memberitahukan atau membuktikan bahwa ada sebuah kehebatan peradaban yang bernam I La Galigo di Sulawesi Selatan.

Dalam konteks itu, kita berterima kasih sebesar-besarnya kepada Wilson dan segenap krew I La Galigo. Tetapi, ke depan, kita butuh pementasan lebih besar dengan I La Galigo yang lebih memakna. (mustam arif)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s