Tahun Baru, Mari Menjadi Manusia yang Baik

Pergantian tahun adalah tonggak yang mestinya dimaknai sebuah perubahan. Perubahan itu dimulai dari diri masing-masing. Sudah sejauh mana kita menyelewengkan  kemanusiaan kita memaknai hidup? Jika sudah amat jauh dari hakikat kita memanusia, maka tahun baru menjadi momentum untuk kembali ke hati nurani. Kembali menjadi manusia yang manusiawi.

Jika demikian, tahun baru menjadi  tonggak untuk kita kembali menjadi manusia yang takut hanya pada Tuhan dan kebenaran. Bukan mengatasnamakan Tuhan dan cerdik memain-mainkan kebenaran.

Selama 2009, kita terlalu banyak ….
memertontonkan kejadian-kejadian yang mencerminkan dosa-dosa kolektif kita, karena dalam diri masing-masing, tak mampu kita menekan ambisi  dan keserakahan untuk kepentingan masing-masing, maupun kelompok. Kita melebarkan pintu ilblis dalam diri masing-masing sampai derajat kemanusiaan kita menjadi santapan keserakahan.

Ada pertarungan politik bernama Pemilu dan Pilpres, maupun Pilkada yang memperlihatkan penyalahgunaan naluriah kita. Menginjak teman dan kerabat. Menyelewengkan suara orang lain untuk bisa duduk di kursi terhormat, tanpa menyadari bahwa yang demikian itu adalah kezaliman besar karena menikmati jerih payah orang, yang mungkin telah dirahamati Tuhan. Waktu kampanye berjanji, bahkan bersumpah atas nama Tuhan untuk kepentingan rakyat. Tetapi ketika duduk di kursi empuk, rakyat dilupakan bahkan memeras uang rakyat untuk kepentingan diri sendiri dalam cengkaraman kultur hedonisme. Ketika duduk di kursi impian, telinga tertutup rapat dari teriakan kebaikan misalnya ‘tidak perlu mobil dinas yang mahal, karena toh sama fungsinya dengan yang murah. Pura-pura tidak mendengar teriakan kebaikan ‘jangan terlalu banyak jalan-jalan menghabiskan uang rakyat’.

Kita juga miris menyaksikan para penegak hukum yang bersumpah atas nama Tuhan,  para pengusaha, dan banyak pihak, yang justru bekerja sama  melakukan kejahatan bernama korupsi. Mereka yang diberi amanah memberantas kejahatan kemanusiaan bernama korupsi, tetapi  justru melakukan kongsi untuk menyuburkan korupsi. Bahkan korupsi mungkin tumbuh menjadi tujuan hidup.

Hukum direkayasa untuk kepentingan sendiri, kepentingan kelompok, dan kepentingan penguasa. Ini tragis, karena bangsa bernama Indonesia merupakan sebuah basis moralitas kehidupan. Banyak peradaban yang mewariskan  nilai-nilai luhur.  Agama sebagai sumber moral dan ahlak berkembang subur.

Tetapi mengapa korupsi dan perbuatan buruk terkesan berbanding terbalik dengan modal-modal besar kita yang bersumber dari agama dan nilai-nilai luhur peradaban? Yah, mengapa? Karena kita melupakan hakikat kemanusiaan kita. Karena kita makin jauh dari kebaikan kita sebagai manusia.  Karena di antara kita beragama sebatas nama. Karena Tuhan kita jadikan tameng kejahatan.

Karena itu, momentum Tahu  Baru ini, mari kita kembali menjadi manusia yang baik. Dengan menjadi menusia yang baik, persoalan bangsa bisa diatasi. Kembali pada kemabikan menjadi sumber etos hidup. (mustam arif/31/12/2009)

Iklan
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

One response to “Tahun Baru, Mari Menjadi Manusia yang Baik

  1. Ping balik: subuh 1 januari « The Petrichor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s