Tragedi Negeri Elok

Disadari atau tidak disadari, kita adalah generasi yang dibesarkan dengan alunan nina bobo tentang negeri yang elok nan subur. Jamrud katulistiwa yang menyimpan sumber daya alam melimpah-ruah.

Para seniman dan biduan melukiskan negeri ini seperti surga. Lautan dan samudra luas menjadi kolam susu. Tongkat kayu yang dibuang pun bisa tumbuh.

Benar para seniman. Kita memang dirahmati kesuburan bagi setiap jengkal tanah di negeri ini. Kita dirahmati hutan, bahkan 10 persen hutan tropis dunia, semula menjadi milik kita. Bukan hanya itu, di bawah hutan dan tanah yang subur, kita masih dirahmati Maha Pencipta, berbentuk aneka hasil tambang dari fosil purba berupa minyak bumi, emas, biji besi, nikel, batu bara dan lain-lain. Di samudra luas, kita dirahmati jutaan jenis ikan dan keanekaragaman hayati laut tak tertandingi….
Tapi kini, negeri surgawi ini tinggal lukisan dalam syair-syair lagu dan ungkapan-ungkapan usang yang melaneristik. Mengapa? Karena kenyataannya, di tahun 2008 ini, 36,8 juta rakyat negeri ini berada di bawah garis kemiskinan, yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Artinya, 16,8 persen rakyat di sebuah negara bernama Indonesia, negeri elok nan subur,  tidak bisa hidup semestinya.

Lalu di mana hasil hutan dan tambang yang melimpah itu? Lalu di mana potensi lautan yang tidak tertandingi itu. Lalu bagaimana dengan hasil dari hamparan tanah subur nan luas itu?

Ini ironis. Ketika pertanyaan tersebut dilontarkan, kenyataannya hutan dan kenekaragaman hayati tinggal tersisa. Aneka potensi tambang di perut pertiwi hampir habis digali. Tanah subur yang mahaluas hanya mendatangkan impor bahan makanan dari negeri orang yang justru punya sumber daya alam pas-pasan.

Kini, negeri elok nan subur ini telah dicengkram tragedi pangan dan kemiskinan. Negeri elok ini kehilangan arah dan tidak mampu mengikuti irama perkembangan global.

Kita tidak bisa menyalahkan situasi global, karena kita dirahmati sumber daya alam yang melimpah. Kita mesti mengakui bahwa sejatinya memang salah mengurus dan mengelola negeri yang sebenarnya kaya dengan sumber kemakmuran. Selama kurang lebih 32 tahun berproses dalam ’kesuksesan’ pemerintahan Orde Baru, ternyata hanya berbuntut pada krisis bangsa multidimenasi yang berkepanjangan. Kita jatuh pada tragedi pangan dan politik.

Mengapa demikian? Hanya satu kata, Keserakahan. Lantaran keserakahan, hutan dan sumber kekayaan hayati dihabisi, tetapi masyarakat jadi miskin, karena eksploitasi sumber alam hanya mengeyangkan penguasa, kroni penguasa, dan pengusaha kroni penguasa. Rahmat kekayaan di perut bumi habis digali, tetapi sumber kemakmuran tambang sebagian besar mengalir ke kantong pengusaha kroni pengusa, penguasa dan kroni, yang dikendalikan tangan-tangan asing.

Kini negeri elok nan subur telah dililit kemiskinan. Ini tragedi menyedihkan. Di satu sisi, orang mati kelaparan karena harga barang melambung tinggi, tetapi di sisi lain sebagian orang memertontonkan kreativitas korupsi yang menjelma menjadi tradisi. Kezaliman bernama korupsi telah menjadi kelaziman berbaju intelek, yang membentuk kebudayaan hedonis buat kelompok masyarakat pejabat dan para aparat segala lapisan, yang mengatasnamakan rakyat.

Negeri elok nan subur kini mengalami kenyataan maju kena, mundur kena. Ingin maju, tetapi tidak berdaya dengan kenyataan global dan cengkraman imprealisme modern, yang membunuh kedaulatan negeri ini atas pengelolaan sumber daya alam. Mau maju, tetapi masing-masing pihak hanya mementingan kelompok. Kemiskinan malah menjadi komoditi politik untuk saling rebutan kekuasaan, karena dengan berkuasa, bisa mengeruk kekayaan negeri dengan leluasa. Mau melihat ke belakang, tidak ada acuan sejarah pembangunan bangsa ini yang benar-banar harus diteladani.

Negeri elok nan subur bisa dibangkitkan, kecuali membunuh keserakahan untuk kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok. Paling utama adalah membunuh terlebih dahulu peradaban korupsi. (mustam arif/07/2008/pernah dimuat di Majalah Profiles)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s