Merdeka dari Korupsi

Dalam perjalanan mengelilingi Sulawesi Selatan pekan-pekan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, jalanan macet di mana-mana. Ada dua penyebab yang dominan. Perjalanan mesti terhenti karena dihalangi latihan baris-berbaris anak-anak sekolah dan para pegawai negeri. Atau badan jalan tertutup sebagian karena antrean kendaraan membeli bahan bakar.

Ini sepele. Tapi rasanya, itulah potret Indonesia di usia ke-63 tahun merdeka. Di satu sisi susah mendapatkan bahan bakar. Di sisi lain, hampir semua orang sibuk latihan baris-berbaris…..
Lalu apa korelasinya dengan HUT sebuah bangsa besar yang dibangun penuh perjuangan oleh para pemimpin-pemimpin bersar, bersama rakyat yang jumlahnya besar? Apa hubungan latihan baris-berbaris yang menyita jam belajar anak-anak sekolah dan  jadwal pelayanan publik para pegawai?

Kegiatan baris-berbaris yang menghalangi aktivitas di jalan raya, tidak lebih dari menyemarakkan HUT kemerdekaan dari sebuah bangsa yang justru pada momentum ini, segala sesutau serba susah diperoleh. Ekonomi sulit, antrean bahan bakar, pemadaman listrik bergiliran, sementara di sisi lain kaum politisi masing-masing berjuang merebut kekuasaan. Ada yang gagah perkasa bak pejuang kemerdekaan mempertaruhkan tenaga dan kekayaan untuk bisa menjadi bupati, gubernur dan anggota legislatif.

Dalam momentum seperti ini, latihan baris-berbaris kok rasanya seperti dagelan. Bukankah aktivitas tersebut sebagai simbolisasi patriotisme pada tumpah darah. Tetapi ketika kondisi bangsa sedang kolaps, pertanyaan kemudian, patriotisme seperti apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini untuk bisa bangkit kembali dari kemelaratan?

Sebab, kita telah merdeka secara fisik dari jajahan bangsa-bangsa lain 63 tahun silam. Tetapi, kini kita mesti menyadari bahwa kita terjajah imprelisme baru yang tidak tampak secara fisik, tetapi dampaknya membuat bangsa ini bangkrut dari berbagai dimensi. Karena itu, mohon maaf, kalau kemudian melihat semua orang sibuk latihan baris-berbaris seperti memaksakan dagelan heroik yang terasa demikian nostalgis.

Di usia ke-63, bangsa ini sesungguhnya menghadapi penjajahan besar bernama korupsi. Penjajahan ini sebenarnya sangat berbahaya dari kolonialisme fisik, karena dilakukan oleh bangsa sendiri untuk membangkrutkan bangsa sendiri. Bagai lintah menisap darah saudara sebangsa dan setanah air, lewat kurupsi yang suburnya seperti enceng gondok di danau.

Jika ini diketahui para pahlawan bangsa yang telah gugur di medan perang melawan penjajahan fisik, mereka akan menangis. Mereka sedih karena jiwa, raga yang telah mereka korbankan untuk kemerdekaan kolonialisme bangsa ini, ternyata kemudian hari  membuahkan pejajahan besar bernama kolusi, korupsi dan nepotisme.

Karena itu, di tengah hingar-bingar tradisi baris-berbaris menyemarakkan Hari Proklamasi Kemedekaan RI saat ini, mestinya tidak semata-mata menumbuhkan seremonialisme. Kita butuh itu hanya sebagai sinbol patriotisme. Paling penting adalah bangsa ini kembali mereposisi makna dan semangat kemerdekaan, pada konteks kini, dimana negeri ini bangkrut karena dililit korupsi. Negeri ini direjam keserakahan yang mengutamakan kepentingan individu dan kelompok. Negeri ini dicengkram kekuatan asing lewat jajahan ekonomi dan kultur. Negeri ini sedang kehilangan martabat yang susah payah dibangun para pendiri negara.

Karena itu, dalam momentum 63 tahun merdeka, kita mesti terus menabuh genderang perang melawan korupsi. Apa yang telah dicapai dalam pemberantasan korupsi saat ini, mulai menuai hasil yang baik.

Namun capaian itu, baru hanya permukaan, sebab korupsi di Indonesia telah membiak subur bagai fenomena gunung es. Dalam kondisi ini, perang melawan korupsi sama heroiknya seperti perang melawan para penjajah. Bahkan lebih heroik dan dramatis, karena harus berperang melawan bangsa sendiri. Melawan para koruptor yang juga tak segan-segan mempertahankan wilayah ’jajahan’ mereka.

Kita mesti harus merdeka dari korupsi. Itulah cita-cita mulia perjuangan bangsa Indonesaia saat ini. Dirgahayu. (mustam arif/08/2008/pernah dimuat di Majalah Profiles)

Iklan

2 responses to “Merdeka dari Korupsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s