Adam Air Tanah

Terompet tahun baru berbuah lara, ketika kita mengawali 2007 dengan tragedi. Pesawat AdamAir hilang di Sulawesi dan sampai coretan ini dibuat 13 Januari 2007, perangkat besi terbang itu baru ditemukan serpihan-serpihannya.

Mengawali tahun ini juga kita di didera bencana di perairan. Kapal feri Senopati Nusantara tenggelam di Jawa Tengah. Ratusan nyawa hilang dan kemungkinan besar ‘telah kembali’ ke pangkuan Ilahi.
Kita juga dihantam musibh tanah longsor tak henti-hentinya. Rumah, manusia dan harta benda terkubur dalam sekejap. Lenyapnya AdamAir, misterius. Radar canggih hasil peradaban manusia tak bisa mendeteksi. Signal musibah hanya bisa ditangkap selintas di Singapura…

Kita kemudian bagai kehilangan superioritas kita. Kehilangan kehebatan kita yang mampu membikin terkonologi seolah menyamai Kreativitas Tuhan.
Tertapi, tidakkah kita sadar, bahwa kita mendatangkan kapal tercanggih di dunia milik Amerika Serikat untuk menebar kekaguman dan decak kagum mencari pesawat AdamAir, kemudian tidak berhasil. Kita pun terhenyak, ketika serpihan pesawat AdamAir itu ditemukan seorang nelayan. Seorang manusia yang jangankan mengenal radar dan signal, mendegarnya pun belum pernah. Ini musykil dipahami, seorang nelayan mampu mengalahkan ahli dan teknologi canggih.
Lalu, apa hikmah di balik kenyataan ini? Tak ada hal lain, kecuali kesadaran, bahwa Tuhan menguji kita dengan makin terang-terangan. Tuhan seolah memberikan pelajaran dengan tidak menyimpan kemahakuasan-Nya pada isyarat-isyarat yang mesti dipahami dalam permenungan mendalam. Kali ini Allah benar-benar ‘berterus terang’.
Lalu, mengapa mesti AdamAir? Karena Adam adalah awal dari kemenusiaan kita. Manusia pertama yang menyimbolkan hakikat kehidupan. Ia adalah tonggak awal dari akal dan pikiran serta napsu. Sedangkan air adalah sumber kehidupan yang kalau dikehendaki Allah, air berubah menjadi bencana seperti bencana kapal tenggelam dan banjir disertai longsor.
Di awal 2007 kita memang benar-benar diuji sekaligus dihukum Tuhan lewat bencana di udara, laut dan darat. Allah mengingatkan untuk tidak melupakan hakikat kita sebagai manusia. Ia menguji kita lewat air (kapal tenggelam dan banjir) lewat darat (tanah longsor) dan lewat udara (pesawat jatuh). (mustam arif/01/2007)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s